PENGEMBANGAN BAHAN BELAJAR CETAK

ImagePengembangan Bahan Ajar Cetak adalah salah satu mata kuliah yang saya terima disemester ini. Pertama saya akan membahas sedikit tentang kejanggalan nama yang ada dalam mat kuliah ini. Pengembangan Bahan Ajar Cetak, seperti namanya “Bahan Ajar” tentu kita akan berpikiran bahwa dalam mata kuliah ini kita akan banyak berurusan dengan pembelajar atau guru. Karena “Bahan Ajar” memang pada hakikatnya adalah ditujukan untuk guru. Maka timbulah banyak pertanyaan, apa maksud dari bahan ajar itu? Seperti apakah bahan ajar itu?

Setelah memasuki perkuliahan pertama dosen yang bersangkutan Prof. Dr. B. P. Sitepu memberikan penjelasan kepada kami (mahasiswanya) bahwa ada sedikit kekeliruan dalam nama mata kuliah tersebut. Benar saja, selaku Teknolog Pendidikan yang berorientasi kepada siswa seharusnya kita lebih berkonsentrasi kepada pemelajar (peserta didik) bukan pembelajar (guru). Jadi Prof. Sitepu kembali meluruskan kami kalau nama mata kuliah ini yang benar adalah Pengembangan Bahan Belajar Cetak.

Mata kuliah ini akan membimbing mahasiswanya untuk berpikir sistemik dan sistematis seputar bahan belajar cetak. Mata kuliah inimembahas (menelaah secara dalam dan kritis) mengenai bahan belajar cetak. Mahasiswa akan diajak menganalisis kebutuhan dan sampai mengembangkan kurikulum menjadi naskah belajar.

Pada dasarnya mata kuliah ini membahas tentang bahan belajar yang fungsinya bagi pemelajar (peserta didik) sebagai salah satu sumber belajar dan bagi pembelajar (guru) sebagai salah satu sumber pembelajaran. Bahan belajar cetak dianggap perlu karena meskipun media elektronik berkembang pesat dan mulai banyak dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran, media cetak masih tetap dipergunakan sebagai salah satu sumber utama dalam proses pembelajaran. Memfasilitasi belajar adalah bagaimana cara menumbuhkan kemauan si pembelajar berdasarkan kemauan dirinya sendiri (intrinsic).

Buku memiliki kelebihan praktis, ekonomis, dan dapat menjangkau banyak lapisan. Praktis; buku tidak memerlukan sarana penunjang lainnya untuk dapat digunakan. Dengan hanya bermodalkan bantuan cahaya kita sudah dapat membaca buku kapan pun dan dimana pun kita berada. Karena unsur kepraktisan inilah banyak orang yang dapat membaca buku meski mereka sedang berada ditengah-tengah perjalanan yang macet sekali pun. Buku juga ekonomis. Tidak memerlukan listrik, tidak memerlukan hardware pununjang lainnya seperti alat elektronik kebanyakan. Itulah sebabnya buku dapat menjangkau banyak lapisan masyarakat. Selain praktis dan ekonomis, pendistribusian buku pun jauh lebih mudah sehingga dapat dijangkau diberbagai lapisan masyarakat diberbagai daerah. Seperti halnya Negara kita Indonesia yang memiliki struktur geografis yang dipisahkan oleh lautan luas, dibatasi oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi sehingga peralatan elektronik lebih sulit didistribusikan ke berbagai pelosok di negeri ini. Itulah sebabnya buku sangat diandalkan untuk dapat menyebar luaskan informasi ke berbagai pelosok negeri ini.

Selain memiliki banyak kelebihan, buku tetap memiliki kekurangan atau kelemahan. Kekurangan atau kelemahan buku diantaranya adalah monolog, statis. Monolog artinya adalah buku hanya dapat memenuhi komunikasi satu arah. Apabila pembaca ingin menyampaikan pertanyaan atau keluhan keluhan terhadap tulisan yang tertera dalam buku tersebut pembaca tidak dapat bertanya jawab secara lansung dengan penulis. Pembaca harus terlebih dahulu mengirim surat dan tentunya itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menerima balasan dari penulis. Selanjutnya buku juga bersifat statis. Untuk memperbaharui isi atau konten-konten dalam buku tersebut dibutuhkan produksi ulang yang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya mengapa satu buku biasanya bertahan sangat lama. Karena untuk memperbaharuinya dibutuhkan penelitian, penulisan dan pemproduksian kembali. Serta ada yang berpendapat bahwa kalau tidak menarik buku akan membosankan, sehingga muncuk beberapa joke yang mengatakan kalau tidak bisa tidur bacalah buku agar kau merasa bosan dan tertidur. Hahahahha…

Memfasilitasi belajar adalah bagaimana cara menumbuhkan kemauan si pembelajar berdasarkan kemauan dirinya sendiri (intrinsic). Menurut saya sebagai mahasiswa Teknologi Pendidikan sangat indah rasanya apabila dapat membantu menumbuhkan rasa semangat belajar dalam diri individu. Buku adalah salah satu sumber belajar yang baik digunakan untuk setiap individu. Tujuan utama saya mengambil mata kuliah ini adalah karena saya memiliki harapan untuk dapat membuat model bahan belajar cetak, dapat menilai kriteria-kriteria bahan belajar cetak, serta dapat melakukan penelitian yang terkait bahan belajar cetak.

Dalam mata kuliah ini saya berharap dapat mengetahui serta memahami berbagai model bahan belajar cetak beserta karakteristiknya dan perbedaan yang dimiliki oleh setiap bahan belajar cetak yang ada. Setalah mengetahui model belajar cetak yang ada selanjutnya saya ingin berlatih bagaimana membuat model bahan belajar cetak beserta dengan kriteria-kriteria yang baik serta tepat bagi kalangan yang dituju.

Tidak hanya sampai pada membuat, namun saya juga berharap dapat lebih menelaah serta menilai kriteria-kriteria bahan belajar cetak dan mencari nilai plus dan minus dari bahan belajar cetak yang telah ada. Hal itu sangat bermanfaat selain dapat membantu saya untuk lebih memahami kriteria yang baik, hal itu juga dapat menjadi pedoman bagi saya untuk menciptakan bahan belajar yang baik sesuai dengan kriteria-kriteria yang tepat pula. Dan yang terakhir adalah memanfaatkan mata kuliah ini untuk dapat melakukan penelitian yang terkait bahan belajar cetak.

Point satu dan dua merupakan alasan utama sekaligus menjadi pengharapan terbeasar saya dalam mata kuliah ini. Selain dapat mengatahui berbagai model bahan belajar cetak saya juga berharap dapat membuat dan mengembangkan bahan belajar cetak sendiri sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada. Sebagai mahasiswa Teknologi Pendidikan yang memiliki peminatan (konsentrasi) di Teknologi Kinerja, ingin juga rasanya saya dapat membuat serta mengembangkan sendiri modul pelatihan yang sesuai, yang memberikan kenyamanan kepada pembacanya, serta yang akan menimbulkan semangat untuk terus belajar melalui bahan belajar cetak tersebut.

Demikianlah sepenggal cita-cita saya dalam mata kuliah ini. Memang tidaklah mudah dan butuh pengorbanan baik materi mau pun non materi. Namun dengan tekat dan kemauan untuk lerus belajar (lifelong learning) saya yakin tidak ada yang tidak bisa dikerjakan di dunia ini. Dan semoga saja dengan di ajar oleh Prof. Dr. B. P. Sitepu akan banyak inspirasi yang dapat saya serap darinya.